Selasa, 21 Mei 2013

Pelajaran Bahasa Indonesia: Anekdot 1

Anekdot Bikin Cair Kelas
Mengajar Menyenangkan Pelajaran Bahasa Indonesia
oleh: Hari Untung Maulana

Anekdot atawa cerita lucu
senjata pamungkas bikin siswa tertawa.

Kadang siswa tertawa lepas karena mendengar isi anekdot yang disampaikan guru
Kadang siswa tertawa keras karena ekspresi yang ditunjukkan guru ketika menyampaikan
Kadang siswa tertawa terbahak-bahak karena gurunya ternyata bisa juga stand up comedy
Kadang siswa malah menertawakan guru karena isinya tidak lucu.

Ditertawakan siswa? ya gapapa, kan memang sedang menceritakan anekdot
Kalau setelah kita bercerita lucu terus ada siswa yang nangis-nangis... nha itu yang mesti kita bingung.
Pada pelajaran bahasa Indonesia sendiri, ada laho materi menceritakan cerita lucu.
Lantas, kalau guru harus mengajarkan kepada siswa bagaimana caranya bercerita lucu,
tentu guru harus juga mampu bercerita lucu kan?.

Dalam kehidupan bersosialisasi,
cerita lucu ternyata salah satu senjata efektif untuk saling mendekatkan diri dengan orang di sekitar
ketika suasana dirasa sudah tidak kondusif,
seorang pemateri seminar biasa melemparkan ice breaking berupa anekdot
ketika suasana dirasa sudah pada mengantuk,
seorang penceramah sudah jamak mengeluarkan cerita lucu.

Begitu juga sebagai guru,
suasana BT, mengantuk, bosan, dan aura negatif lainnya yang dirasakan di kelas
bisa dicairkan dengan anekdot.

ANEKDOT TEMATIK 
PELAJARAN BAHASA INDONESIA

Kali ini, saya akan memberikan beberapa kumpulan anekdot
yang saya sadur dari berbagai sumber di internet.
anekdot-anekdot ini sebaiknya ditaruh di RPP agar tidak lupa kapan harus dikeluarkan
karena sifatnya yang tematik, jadi memang anekdot ini harus dikeluarkan saat guru bahasa Indonesia mengajarkan suatu materi



ANEKDOT
Materi: Cerita Rakyat: Legenda

Dongeng dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: FALEMISAJE
FAbel, LEgenda, MIte, SAge, dan dongeng JEnaka
Legenda adalah dongeng yang menceritakan asalah usul suatu benda, daerah, dan hewan. Salah satu legenda yang terkenal di Indonesia adalah legenda Malin Kundang. Di sela-sela siswa mendongeng. Guru dapat menceritakan anekdot tentang Malin Kundang di bawah ini:
Eh, kalian tahu enggak? Kalau ternyata, legenda tentang Malin Kundang itu benar-benar pernah terjadi lho. Dongeng itu baru saja dibuktikan secara ilmiah. Beberapa waktu lalu, lima orang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan sebuah botol yang berisi sejenis cairan tepat di bawah patung Malin Kundang di kedalaman 10 meter.
Botol itu diperkirakan sudah berusia 2 abad lebih. Setelah diteliti, ternyata cairan itu adalah cairan yang digunakan oleh ibu Malin Kundang untuk mengutuk anaknya. Jadi, cerita yang sebenarnya diperkirakan bahwa ibu Malin Kundang menyiramkan cairan tersebut ke tubuh Malin sehingga berubah menjadi batu. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya label yang masih tertempel di botol itu. Labelnya bertuliskan For Malin yang artinya Untuk Malin




Legenda2
 Legenda atau asal-usul tidak hanya mengenai asal-usul suatu tempat, tetapi ada juga legenda tentang hewan dan tumbuhan. Misalnya, asal-usul tanaman padi yang berasal dari kisah Dewi Sri, legenda ayam dengan elang, dan legenda putri malu. Ceritakan tentang legenda ini (legenda memang fiktif, tetapi yang ini lebih fiktif lagi) pada para siswa:
ASAL MUASAL ANJING KALAU ‘PIPIS’
KAKINYA DIANGKAT SATU
 
Zaman dahulu anjing jika pipis tidak mengangkat satu kakinya. Hingga pada suatu ketika sang nenek moyang anjing (karena meminum air satu gentong) kebelet pipis.
Celingak-celinguk dia mencari tempat yang ‘uenak’ untuk pipis. Tak lama dia memutuskan untuk pipis di bawah sebuah tembok yang sudah tua. Agak sedikit gosong karena baru seminggu yang lalu kebakaran.
Setelah dirasa aman. Nenek moyang anjing itu lalu pipis di sana. Baru setengah perjalanan. Tiba-tiba tembok di sampingnya rubuh dan menimpa tubuhnya. Anjing itu terimpit. Sekuat tenaga dia berusaha keluar dari reruntuhan tembok yang menjepitnya.
Sejak saat itu, jika anjing mau pipis di tembok, anjing selalu memegang tembok tersebut dengan satu kakinya. Takut kerubuhan lagi.
 




Tidak ada komentar: