Selasa, 21 Mei 2013

Pelajaran Bahasa Indonesia: Anekdot 4

Anekdot Bikin Cair Kelas
Mengajar Menyenangkan Pelajaran Bahasa Indonesia
oleh: Hari Untung Maulana

 Bertelepon - Unsur-unsur Intrinsik Drama - Menulis Pengalaman Pribadi




ANEKDOT
Bertelepon

Guru dapat memberikan etika bertelepon. Setelah itu, ceritakan anekdot ini.
Pada suatu hari seorang pembantu rumah tangga yang buta teknologi mencoba untuk mengangkat telepon. Tetapi, cara dia memegang gagang teleponnya salah. Bagian untuk bicara diletakkan di telinga, dan bagian untuk mendengar diletakkan di bibir, dengan PD-nya dia berhalo-halo.
Pembantu        :  “Halo-halo…halo-halo…”

Menyaksikan hal itu sang nyonya cuma tersenyum

Pembantu        :  “Halo…halo… Nyah, ini koq enggak ada suaranya.”
Nyonya           :  (masih tetap tersenyum) “Oh, itu karena bibi terbalik.”
Pembantu        :  “Ooo gitu ya nyah, (kembali ke gagang telepon) Loha…loha…”
Nyonya           :  (gabruk)



ANEKDOT
Unsur-unsur intrinsik drama
Karakteristik (teater)

Ketika menjelaskan tentang karakteristik, ceritakan bahwa ada salah satu karakter yang Anda miliki yaitu perasa. Ceritakan (fiksi, tapi ceritakan seolah-olah Anda pemerannya). “Saya itu orangnya perasa sekali, dahulu orang tua saya pernah menemui kepala sekolah dan mengatakan bahwa saya sangat perasa. Jika melihat orang menangis maka saya akan ikut menangis. Jadi orang tua saya usul agar jika saya nakal, yang dipukul teman sebangku saya saja. Saya pasti juga merasakan sakitnya.




ANEKDOT
Menulis pengalaman pribadi (sumber dari internet)

Ini adalah sebuah pengalaman pribadi, kisah fiksi yang terserak di antara pengalaman pribadi lainnya di internet. Guru dapat meminta seorang siswa untuk membacakan pengalaman ini di depan kelas.

Ini pengalaman di Changi Airport waktu menunggu pesawat pulang ke Indonesia. Entah kenapa tiba-tiba perut saya terasa mulas. Langsung saja saya masuk ke WC yang saat itu kebetulan sepi. Belum semenit duduk, saya dengar suara bapak-bapak berkata.
Bapak2: "Gimana Dik? Baik aja?" Kedengarannya dari WC sebelah. 
Kaget juga, darimana dia tahu saya orang Indonesia. Karena saya tidak biasa ngobrol sama orang yang belum dikenal maka saya jawab aja 
Saya: "Ya, baik". Eh, dia nanya lagi: 
Bapak2 : "Sekarang gimana, sudah terasa lega?" 
Wah, pertanyaan macam apa itu? Ada-ada saja. Baru juga nongkrong semenit, jadi saya jawab aja sekenanya, 
Saya: “Lumayan". Dia jawab lagi: 
Bapak2: "Sama dong ... tapi saya ada masalah dikit nih" 
Saya mulai curiga, lalu gantian saya yang tanya.
Saya:  "Masalah apa pak?" Dia langsung  jawab: 
Bapak2: "Iniii ... ada orang kepo di WC sebelah ikut-ikutan menjawab pertanyaan saya, gimana kalau nanti saya telepon lagi? Ya ... sampai nanti ..." *tut*


Tidak ada komentar: