Selasa, 21 Mei 2013

Pelajaran Bahasa Indonesia: Anekdot 5

Anekdot Bikin Cair Kelas
Mengajar Menyenangkan Pelajaran Bahasa Indonesia
oleh: Hari Untung Maulana





ANEKDOT
Menulis Surat pribadi

Disela-sela menjelaskan tentang cara menulis surat pribadi, guru dapat menceritakan anekdot ini.
Seorang mahasiswa semester XII menulis surat kepada ayahnya:
Halo Ayah,
Aku merasa tidak enak karena terus menerus menulis surat kepada Ayah untuk meminta uang. Aku merasa malu dan sedih. Aku harus meminta uang sebesar Rp 500.000,00 kepada Ayah, walaupun setiap bagian dalam tubuhku memberontak. Aku meminta dengan tulus dari hatiku yang paling dalam, Ayah mau memaklumi dan memaafkan aku.
Salam dari ananda,
Tommy.
NB: Aku merasa berat hati untuk mengirimkan surat ini, jadi aku coba untuk mengejar tukang pos yang mengambil surat ini dari dalam kotak surat. Aku mau mengambil kembali surat ini dan membakarnya, karena surat ini pasti menyusahkan hati Ayah. Aku berdoa dalam hati agar aku bisa mendapatkan surat ini kembali, tapi sudah terlambat.
Beberapa hari kemudian dia menerima balasan surat dari ayahnya yang berisi kalimat pendek,

Untuk Tommy,
"Nak, doamu sudah dikabulkan. Suratmu tidak pernah kuterima"
Dari Ayahmu
.

Atau Anda juga dapat menceritakan anekdot ini.

Seorang mahasiswa mengirim sebuah surat untuk orang tuanya. Singkat sekali, hanya fotokopian uang 50.000 diikuti tulisan. Tolong kirim yang asli 5 buah.
Seminggu kemudian surat balasan datang dari orang tuanya. Singkat juga, hanya gambar kepalan tangan diikuti tulisan “Tunggu aslinya.”






ANEKDOT
MEMBACA TEKS UPACARA

Siswa SMP kelas VII perlu diajarkan bagaimana cara membaca teks upacara yang terdiri atas Pembukaan UUD ’45, Pancasila, Doa, dan teks proklamasi. Di tengah-tengah waktu praktik para siswa. Guru dapat menceritakan anekdot ini.
Dahulu ada seorang siswa sini yang disuruh maju untuk membacakan teks Pancasila. Ketika teman-teman yang lain maju dengan membawa teks, dia dengan PD-nya maju tanpa membawa teks. Maksudnya sih mau menyombongkan diri bahwa dia sudah hafal.
Ketika sudah berdiri di depan kelas, semua mata teman-temannya tertuju pada dirinya. Karena disaksikan oleh puluhan mata seperti itu dia mulai grogi.
“PANCASILA” ucapnya lantang. Anak-anak yang lain hening. Membuat dia makin grogi
“SATU... KETUHANAN YANG MAHA ESA.” Anak-anak makin serius melihat dia. Dia makin keringatan.
“DUA... DUA...” dia mulai lupa. Yang lain ikut-ikutan tegang. Dia makin gemetaran.
“DUA...TIGA...EMPAT...DAN LIMA.... SAMA SEPERTI YANG LAIN.” Ujarnya lantang dan langsung duduk di kursinya.



ANEKDOT
MENULIS BUKU HARIAN

Menulis buku harian banyak sekali manfaatnya, antara lain adalah sebagai bahan instropeksi, modal untuk membuat biografi, dan teman curahan hati.
Tulisan ini ditemukan di sebuah buku harian siswa kelas VII SMP. Anda bisa menceritakan hal ini di depan siswa.
“Hai Diary, hari ini aku senang sekali. Tadi ketika sedang ulangan matematika aku keluar paling duluan dibandingkan teman-temanku yang lain, kamu tahu gak penyebabnya, soalnya aku ketahuan menyontek. Ih senang deh bisa pulang duluan.”

Atau cerita yang ditulis oleh siswa SMA kelas XI di bawah ini:

Angin sepoi-sepoi, 20 Januari 2008
Hi Ry, BT deh ama guru ku. Masak aku disuruh ngakuin hal yang tidak aku lakukan. Dia tanya, siapa yang membunuh Ken Arok, padahal sudah aku jawab, bukan aku pelakunya. Tapi pak guruku malah marah. Dia terus nanya masalah itu. Sampai bilang aku enggak belajar segala. Emang buat apa juga belajar ngebunuh orang. Kalau kamu jadi aku bagaimana Ry. Pasti kamu juga akan BT kan?

Tidak ada komentar: